Sedihnya mendengar betapa harga-harga barang dan kebutuhan sehari-hari di Indonesia begitu mudah dipermainkan segelintir orang. Harga bawang yang belakangan melonjak tajam, kita nantikan saja kapan saatnya kembali semula. Pun berita yang sama menimpa cabai medio tahun 2012 lalu, ditambah berita lonjakan harga daging sapi pada tahun yang sama.

“Huff…”, melepas beban di dada.

“Ini pasti ulah oknum bisnis yang tidak bertanggungjawab,” pikiran melayang pada para oknum itu.

Kalau kita membahas mengenai sistem ekonomi dunia, pasti tidak akan terlepas dari dua istilah ini: kapitalis dan sosialis. Kapitalis yang secara sederhana berarti kebebasan berekspresi para pelaku bisnis, kebebasan pasar dan kebebasan individu tanpa intervensi dari pemerintah. Atau sosialis yang sebaliknya membatasi gerak pelaku bisnis, pasar, dan individu dengan mengobarkan peran pemerintah sebagai pengatur sistem ekonomi.

Lalu? Dunia saat ini terutama di barat dan sebagian timur menggunakan sistem dasar kapitalis, katanya, salah satunya Indonesia… dan negara seperti contohnya China dan Rusia masih dengan sistem sosialisnya.

Pertanyaan selanjutnya, mau dibawa kemana kesejahteraan bangsa kita dengan sistem yang ada?

Saatnya berlaku moderat. Menjunjung kebebasan yang bertanggungjawab dari pelaku bisnis, pasar, dan individu pun peran pemerintah yang tidak setengah-setengah.

Dari mana harus memulai?

Selagi kondisi jiwa dan nafsu masih mendominasi, rakyat masih akan menderita. Selagi penimbun, penipu, pencari keuntungan sesaat masih berkeliaran, tidak ada keadilan. Selagi para manajer keuangan rumah tangga masih pusing dengan belanja hariannya bahkan untuk sekedar konsumsi perut, maka tidak boleh ada yang diam.

Wahai para pelaku ekonomi… mari bersikap moderat.

Jika tidak bisa dibumihanguskan, maka minimalisirlah para penjahat, sampai mereka tidak punya kekuatan untuk bergerak, sampai mereka mati kutu dengan impian kekayaan materi mereka…

(Buat yang ditag, mohon masukannya… :D)

 

Islamabad, 23 Maret 2013

Momen merindukan masa dua Umar… Umar bin Khattab dan cucu beliau Umar bin Abdul Aziz…

– dari notes di fb –

Advertisements